Metodologi secara umum didefinisikan sebagai ”a body of methods and rules followed in science or discipline”. Sedangkan metode sendiri adalah ”a regular systematic plan for or way of doing something”. Kata metode berasal dari istilah Yunani methodos (meta+bodos) yang artinya cara. Jadi, metode penelitian adalah cara sistematik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam proses identifikasi dan penjelasan fenomena yang tengah ditelisiknya. Secara dikotomis, dalam ilmu sosial dikenal dua jenis metode penelitian yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Bagian ini penting dikemukakan, agar kita semua melihat secara jelas kesetaraan metodologi. Yaitu, masing-masing metode mempunyai paradigma teoritik, gaya, asumsi paradigmatik, serta kekuatan dan kelemahan sendiri. Diskusi mengenai hal ini adalah mendasar, karena seringkali kita keliru dalam menempatkan metode dalam konteks penelitian yang bersifat idiografis. Pada bagian ini akan diskusikan metode sebagai proses “sell” and “trade”, ranah data kualitatif dan dimensi etika.
Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama dari akar filosofis dan teori sosial abad ke-20. Kedua metode penelitian di atas mempunyai paradigma teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik penelitian yang berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk melihat realitas sosial.
Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional, positivistik, eksperimental atau empiricist. Metode ini berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan dijabarkan pada indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” dan subjek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya.
Sementara metode kualitatif dipengaruhi oleh paradigma naturalistik-interpretatif Weberian, perspektif post-positivistik kelompok teori kritis serta post-modernisme seperti dikembangkan oleh Baudrillard, Lyotard, dan Derrida (Cresswell, 1994).
“Gaya” penelitian kualitatif berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Memang dalam penelitian kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit dalam situasi yang terbatas, melibatkan subjek dengan jumlah relatif sedikit. Dengan demikian, hal yang umum dilakukan ia berkutat dengan analisa tematik. Peneliti kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya.3 Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, metode penelitian mempunyai pula asumsi paradigmatik. John W. Cresswell menilik beberapa dimensi asumsi paradigmatik yang membedakan penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Dimensidimensi tersebut mencakup ontologis, epistemologis, axiologis, retorik, serta pendekatan metodologis. Secara ontologis, peneliti kuantitatif memandang realitas sebagai “objektif” dan dalam kacamata “out there”, serta independen dari dirinya. Sementara itu, peneiliti kualitatif memandang realitas merupakan hasil rekonstruksi oleh individu yang terlibat dalam situasi sosial. Secara epistemologis, peneliti kuantitatif bersikap independen dan menjaga jarak (detachment) dengan realitas yang diteliti. Sementara peneliti kualitatif, menjalin interaksi secara intens dengan realitas yang ditelitinya. Secara retoris atau penggunaan bahasa, penelitian kuantitatif biasanya menggunakan bahasa-bahasa penelitian yang bersifat formal dan impersonal melalui angka atau data-data statistik.
Tabel 1. “Gaya” Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
| Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|
| Mengukur fakta-fakta objektif | Mengkonstruksikan realitas dan makna kultural |
| Fokus pada variabel-variabel | Fokus pada proses dan peristiwa secara interaktif |
| Reliabilitas adalah kunci | Otentisitas adalah kunci |
| Bebas nilai | Hadirnya nilai secara eksplisit |
| Bebas dari konteks | Dibatasi situasi |
| Banyak kasus dan subjek | Sedikit kasus dan subjek |
| Analisis statistik | Analisis tematik |
| Peneliti terpisah | Peneliti terlibat |
Tabel 2. Asumsi Paradigmatik Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
| Asumsi | Pertanyaan | Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|---|---|
| Asumsi ontologis | Apakah sifat dasar realitas? | Realitas bersifat objektif dan singular, terpisah dari peneliti | realitas? Realitas bersifat objektif dan singular, terpisah dari peneliti Realitas bersifat subjektif dan ganda sebagaimana terlihat oleh partisipan dalam studi |
| Asumsi epistemologis | Bagaimana hubungan antara peneliti dengan yang diteliti? | Peneliti independen dari yang diteliti | Peneliti berinteraksi dengan yang diteliti |
| Asumsi aksiologis | Bagaimana peranan dari nilai? | Bebas nilai dan menghindarkan bias | Sarat nilai dan bias |
| Asumsi retoris | Bagaimana penggunaan bahasa penelitian? | • Formal • Berdasar definisi • Impersonal, • Menggunakan bahasa kuantitatif |
• Informal • Mengembangkan keputusan-keputusan • Personal, • Menggunakan bahasa kualitatif |
| Asumsi metodologis | Bagaimana dengan proses penelitian? | Proses deduktif Sebab akibat Desain statis-kategori membatasi sebelum studi Bebas konteks Generalisasi mengarah pada prediksi, eksplanasi dan pemahaman Akurasi dan reliabilitas melalui validitas dan reliabilitas | • Proses induktif • Faktor-faktor dibentuk secara simultan • Desain berkembangkategori diidentifikasi selama proses penelitian • Ikatan konteks • Pola dan teori dibentuk untuk pemahaman • Akurasi dan reliabilitas dibentuk melalui verifikasi |
Metode kualitatif adalah ditempuhnya langkah-langkah penelitian yang bersifat non-linear. Dalam metode kuantitatif, seorang peneliti biasanya dihadapkan pada langkah-langkah penelitian yang bersifat pasti dan tetap dengan panduan yang jelas sehingga disebut sebagai langkah yang linear. Sementara itu, metode penelitian kualitatif lebih memberikan ruang bagi penelitinya untuk menempuh langkah non-linear dan siklikal, kadangkala melakukan upaya “kembali” pada langkah-langkah penelitian yang sudah ditempuhnya dalam menjalani proses penelitian (Neuman, 1997: 330-331). Hal ini tidak berarti kualitas riset menjadi rendah, namun lebih pada cara untuk dapat menjalankan orientasi dalam mengkonstruksikan makna.
Demikian pembahasan mengenai perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif, semoga artikel ini bermanfaat.
Demikian pembahasan mengenai perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif, semoga artikel ini bermanfaat.

0 komentar